Mengapa Orang Bisa Sombong? - Bag 1



Mengapa Orang Bisa Sombong?

Sahabat Alukatsir Blog yang dimuliakan Allah, pada kesempatan kali ini kita akan mengulas topik seputar Al-Kibr dan segala hal yang berkaitan dengannya. Semoga Allah Taála memudahkan kita semua untuk mengenal kebenaran dan mengikutinya hingga akhir hayat kita nanti.

Apa Arti Dari Al-Kibr?

Al-Kibr di dalam Bahasa Indonesia biasa diartikan dengan sombong atau angkuh.

Adapun secara istilah dalam bahasa arab, makna Al-Kibr adalah suatu kondisi yang mana sesorang itu biasanya sedang merasakan ketakjuban pada diri sendiri, dia memandang dirinya lebih hebat dari orang lain. [Lihat Tajul Arus (8/ 14)]

foto id.tubgit.com

Atau bisa diartikan pula dengan perasaan yang muncul pada diri seseorang yang menganggap dirinya besar, suka memuji-muji kelebihan-kelebihan diri, menganggap orang lain remeh dan kecil, serta tidak mau merendah kepada orang yang wajib dihormati. [Lihat Tahdzibul Akhlak (hal. 32)]

Namun ada penjelasan yang lebih ringkas dan lebih gamblang dari dua pengertian di atas tadi. Yaitu penjelasan Sang Teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu álaihi wa sallam, beliau menerangkan:

"Al-Kibr itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang". [HR. Muslim (no. 91)].


Mengapa Orang Bisa Sombong?

"Secara umum, segala hal yang dapat diyakini sebagai suatu kebanggaan – meskipun itu bukan kebanggaan- maka seseorang akan mendapati kesempatan untuk menyombongkannya. 

Bahkan orang fasiq sekalipun terkadang menyombongkan kefasikan dan kemampuannya dalam menegak sebanyak mungkin minuman keras karena ia mengira itu adalah hal yang membanggakan", tutur Ibnu Qudamah dalam kitab beliau, Mukhstasr Minhajul Qasidin (hal. 293).

Walaupun pada hakikatnya, hal-hal yang disombongkan itu semua dipunyai hanya sementara waktu dan tidak kekal selamanya. Layaknya hidup dan nafas kita yang sangatlah singkat ini, begitu pula hal-hal yang disombongkan tadi, ia tidak kekal abadi sama sekali.

Namun, sebagian orang tetap menganggap sikap menyombongkan kelebihan yang dimilki adalah hal yang wajar. Masih dalam batas kewajaran jika ditilik dari sudut pandang duniawi. Yaitu anggapan bahwa itu semua sah-sah saja untuk disombongkan karena itu anugerah dan kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Jadi sangat manusiawi jika seseorang membangga-banggakan kelebihannya itu, menurut mereka.

Tetapi sangat tidak wajar jika itu dinilai dari sudut pandang ukhrawi dan agama. Agama Islam sangat menekankan pemeluknya perihal status dasar mereka. Yaitu status kita sebagai makhluk yang diciptakan oleh Pencipta kita untuk tujuan yang diinginkanNya.

Jelas saja, pencipta kita dan seluruh semesta hanya satu. Dialah Allah Ta'ala, tiada pencipta yang lain selainNya. Dan tujuanNya menciptakan ciptaanNya tersebut ialah agar mereka hanya menyembah dan terus menerus beribadah padaNya tanpa menduakanNya sedikitpun selama hidup di dunia ini.

Seorang makhluk sangat tergantung dan butuh terhadap PenciptaNya. Tidak dapat dibayangkan jika Sang Pencipta, Al-Khalik membiarkan dan meninggalkan makhlukNya tadi. Segala hajat dan kebutuhannya untuk hidup dan bernafas di muka bumi ini ada di genggaman Rabb Pencipta dan Pengatur itu.

Makanya tanpa pengecualian, setiap makhluk tidak akan bisa berlepas dari kata ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan kepada Allah Ta'ala selaku penciptanya. Karena pada hakikatnya, makhluk lah yang butuh kepada Al-Khaliq, bukan sebaliknya.

Baik. Sekarang yang perlu kita pahami bersama adalah jika kita memang makhluknya maka kita harus tunduk, patuh, dan meminta segala hajat hanya kepadaNya, Sang Al-Khaliq, karena hakikat makhluk itu sendiri adalah budaknya Pencipta tadi.

Nah, apakah masih pantas jika sesama makhluk yang tidak lain adalah para budak yang hina dina, sebagian mereka menyombongkan diri atas sebagian yang lain!?

Jawabnya tentu tidak. Itu dikarenakan dua hal berikut:
• Karena segala kelebihan yang kita miliki adalah berasal dari Pencipta kita tadi. Dia lah yang memberikan setiap dari kita kelebihan-kelebihan yang beragam bentuk dan rupanya. Kita bisa menikmatinya tetapi tidak untuk memilikinya selamanya.

"Setiap yang ada diatasnya (bumi) akan sirna menghilang". [QS. Ar-Rahman: 26]

• Kelebihan-kelebihan tersebut tidaklah bersifat kekal abadi. Sangat mudah sirna jika kita tidak menjaganya baik-baik. Makanya kita diperintahkan untuk pintar-pintar berterima kasih kepada Rabb yang memberi tadi dan sangat dilarang untuk menyombongkan diri dengan apapun yang berasal dariNya.

"Jika kalian pandai bersyukur maka Aku akan semakin menambah (pemberianKu). Namun jika kalian justru 'kufur' (tidak tahu berterima kasih atas nikmat yang diterima) maka sungguh siksaKu sangatlah pedih". [QS. Ibrahim: 7]

bersambung...

Baca juga:



My Instagram