Mereka Yang Berhasil Sembuh Dari Waswas

Alhamdulillah, segala puji teruntuk Allah semata, Rabb yang Pencipta, Pemilik, dan Penguasa alam semesta beserta isinya. Rabb yang berada jauh di atas langit sana, di atas 'ArsyNya sana, tetapi setiap tindak-tanduk dan gerak-gerik dari semua makhluk ciptaanNya tidak pernah luput dari penglihatan dan pengawasanNya. Maka sudah seharusnyalah kita selaku makhluk ciptaanNya hanya menambatkan hati dan ketergantungan kita kepadaNya saja.

Shalawat dan salam semoga selalu terhaturkan untuk junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabat beliau hingga akhir zaman kelak.

Pembaca Alukatsir Blog yang dimuliakan Allah, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba memaparkan sejumlah cerita dan keterangan dari beberapa orang yang berhasil berjuang untuk terlepas dari jerat penyakit waswas.

Namun sebelum itu, saya ingin mengisahkan kepada pembaca sekalian tentang obrolan singkat saya dengan salah seorang dosen dari Universitas Islam Madinah. Obrolan ringan namun sarat akan faidah selepas shalat maghrib hingga menjelang adzan isya di Masjid Nabawi.

Di sela-sela obrolan, dosen hadist dari Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah tersebut membawakan 2 kisah yang berkenaan dengan penyakit waswas:


Kisah Pertama:
Salah seorang ulama yang bernama Ibnu Aqil rahimahullah pernah ditanya dan dimintai fatwa beliau seputar penyakit waswas. Seseorang tiba-tiba datang dan bertanya kepada beliau: "Apa pendapatmu tentang kondisi yang menimpaku, jika aku sekalipun menceburkan diri ke dalam laut untuk bersuci maka aku masih belum yakin bahwa hal itu sudah cukup mengenai seluruh badanku dan bersuciku sudah sah?"

Beliau pun menjawab: "Sudah, tetapi jika Anda tetap merasa hal tersebut belum sah maka kewajiban shalat telah gugur atasmu saudaraku. Karena kewajiban-kewajiban agama akan gugur terhadap 3 jenis orang: anak kecil sampai ia baligh, orang yang tidur sampai ia bangun, dan orang yang gila sampai ia sembuh".

Disini beliau ingin mempertegas dan membantu si penanya yang terkena waswas itu agar bisa terlepas dari jerat-jerat setan dalam waswasnya dengan memberikan jawaban yang tegas dan tajam. Karena sejatinya orang yang sedang dicoba dengan penyakit waswas sangat butuh terhadap ucapan dan jawaban yang bisa meyakinkannya hingga bisa mengurangi waswasnya.

Syaikh yang baru memiliki dua putri kecil inipun kembali melanjutkan ucapannya. Beliau membawakan kisah lain yang berkenaan dengan waswas. Beliau bertutur:

Kisah Kedua:
Dahulu, seorang mufti besar Kerajaan Arab Saudi yang bernama Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah memiliki seorang putra yang menderita waswas tanpa sepengetahuan beliau. Ditambah lagi beliau tidak bisa melihat (buta). Putra beliau tersebut setiap kali hendak shalat pasti mengulang-ulang takbirnya hingga berkali-kali.

Hal ini akhirnya diketahui dan diperhatikan oleh para murid syaikh tersebut. Mereka pun memberitahukan syaikh perihal waswas yang menimpa putra beliau. Beliau memberikan perintah kepada para murid beliau agar memukul putra beliau jika ia terlihat mengulang-ngulang takbirnya ketika memulai shalat.

Hari berikutnya putra syaikh besar itu datang ke masjid dan memulai takbir pertamanya untuk shalat sedang para murid bapaknya sudah bersiap memperhatikan dari belakang tanpa diketahuinya. Mulailah ia mengangkat kedua tangannya dan bertakbir, tetapi sejurus kemudian ia membatalkannya dan mengulangnya kembali.

Manakala ia mengulangnya kembali untuk ketiga kalinya, para murid yang sudah mendapat 'mandat' dari bapak si pemuda tadi pun serempak melayangkan telapak tangan-tangan mereka ke arah pemuda tadi. Sontak ia pun kaget dengan pukulan-pukulan yang menimpanya dari orang-orang tersebut.

Selepas itu ia pun berontak sembari bertanya perihal pukulan-pukulan yang diterimanya tadi kepada para murid bapaknya tersebut. Setelah mendapat penjelasan dari mereka maka ia pun akhirnya sadar bahwa bapaknya sudah mengetahui waswasnya yang selama ini ditutup-tutupinya dari bapaknya.

Keesokan hari, si pemuda tadi berangsur-angsur mulai bisa melawan waswasnya karena ia menyadari bahwa para murid bapaknya sedang mengintainya dengan tatapan dan telapak tangan masing-masing. Hal ini berlangsung beberapa kali hingga ia pun bisa betul-betul terlepas dari penyakit waswas yang pernah menyiksa batinnya.

Mungkin sepintas hal seperti ini terlalu keras, namun terkadang dalam beberapa kondisi dan beberapa orang yang terkena waswas dapat sembuh dengan yang demikian. Takut terhadap pukulan membuatnya lebih kuat dan mendorongnya lebih tegar untuk mengalahkan rasa takut terhadap waswasnya atau ketidakabsahan ibadahnya.

Tapi ingat, itu tidak dapat diterapkan kepada semua orang, terlebih kepada kaum wanita. Karena pada asalnya, orang yang terkena waswas itu butuh perhatian, bantuan, dan kesabaran yang ekstra dari orang-orang terdekatnya; untuk membantunya dalam mengalahkan penyakit waswas itu. Jadi, berlemah-lembutlah dengan ucapan dan sikap kita kepada orang yang terkena waswas. Kecuali jika mereka butuh suatu jawaban yang dapat meyakinkan mereka dengan sedikit ketegasan.

Selepas memaparkan dua kisah tadi, adzan isya mulai dikumandangkan di masjid kecintaan penduduk kota ini, kota Madinah. Dan saya pun pamit diri kepada syaikh pengampu mata kuliah hadits yang berasal dari kota ini.
***
Baiklah. Pembaca Alukatsir Blog yang dirahmati Allah, saya akan bawakan sejumlah pengalaman sebagian orang yang saya kenal, yang berkenan menceritakan pengalaman mereka kepada saya tentang bagaiamana  mereka bisa terlepas dari jerat-jerat setan dalam waswas.

Pengalaman Abu Unaisah:
"Waktu masih duduk di bangku SMP, entah kenapa tiba-tiba saya mulai kepikiran apakah takbir saya sudah pas atau belum. Pikiran tersebut terus bergelayut di kepala saya hingga akhirnya saya pun mulai mengulang-ngulang bacaan takbir dan gerakan takbirratul ihram saya", tuturnya kepada saya ketika kami mulai terlibat obrolan seputar cara menyembuhkan penyakit waswas. 

Saya dalam kondisi seperti itu untuk waktu yang cukup lama. Saya berusaha menutup-nutupinya dari ayah saya karena takut kepada beliau. Saya selalu berusaha ketika shalat agar tidak terlihat oleh beliau. Namun akhirnya ayah saya mengetahui kondisi yang saya alami. Beliau memarahi saya habis-habisan dan mengancam jika saya tidak segera meninggal 'kebiasaan buruk' itu maka beliau akan memukul saya".

Suatu hari, saya shalat di rumah. Sebelum mulai takbir, saya sudah memeriksa bahwa di rumah tidak ada ayah saya. Setelah cukup yakin beliau tidak ada, barulah saya mulai takbir. Tetapi penyakit waswas masih ada dan 'setia' hingga saya pun mengulang-ulang gerakan tangan sambil tertatih-tatih mengucap kalimat allahu akbar.

Kondisi seperti itu terus terulang-ulang. Setiap kali selesai mengucap takbir, saya membatalkannya dan mengulangi dari awal gerakan mengangkat kedua tangan sambil bertakbir takbiratul ihram.

Ketika hampir berhasil menyelesaikan ucapan Allahu Akbar untuk yang kesekian kalinya, tiba-tiba ada telapak tangan besar yang melayang ke arah kepala bagian belakang saya hingga saya pun terpental dan hampir terjatuh. Dengan susah payah saya berusaha tetap berdiri sempoyongan dengan kepala yang masih pusing dan pandangan yang masih berkunang-kunang.

Sesaat setelah bisa berdiri dan pandangan mulai jelas, barulah saya sadar bahwa telapak tangan besar yang 'menghampiri' kepala saya barusan adalah milik ayah saya sendiri. Rasa kaget dengan keberadaan beliau tanpa sepengetahuan saya dan rasa sakit yang masih terasa di kepala bercampur aduk menjadi satu.

Ternyata ayah saya diam-diam sudah berada di kamar tadi sebelum saya datang. Beliau bersembunyi agar saya tidak menyadari keberadaannya dan beliau sudah memperhatikan gerak-gerak putranya sedari awal hingga tibanya insiden telapak tangan terbang tersebut, cerita pria yang sekarang memiliki 3 anak ini.

Ayah saya sangat marah. Marah besar waktu itu. Beliau mengancam saya dengan ancaman yang tidak main-main. "Kalau kamu masih suka mengulang-ngulang takbirmu maka saya akan memukulmu lebih keras lagi", ancam beliau serius. Saya hanya bisa terdiam membisu.

Keesokan harinya, saya mulai meningkatkan kewaspadaan saya terhadap keberadaan ayah saya. Bukan main sakitnya telapak tangan beliau yang mendarat tiba-tiba di kepala saya tanpa bisa menghindar ataupun menangkisnya. Rasa sakit itu masih membekas erat di kepala saya, ditambah lagi ancaman serius dari beliau agar saya segera menghilangkan kebiasaan buruk saya itu, semua itu semakin membuat saya takut dan waspada terhadap beliau.

Hmm...andai beliau sedikit saja memahami atau ikut merasakan betapa susahnya saya untuk melepaskan diri dari jeratan penyakit waswas yang menjangkiti, mungkin beliau mau berlemah lembut kepada putra tercintanya ini. Tetapi barangkali karena dorongan sayangnya yang besar kepada saya makanya beliau ingin saya tidak lemah terhadap setan yang meniupkan bisik-bisik waswas ke telinga saya sehingga shalat saya kacau berantakan, seloroh Abu Unaisah kembali melanjutkan kisahnya.

Dengan susah payah saya berusaha menahan diri agar tidak sekalipun mengulang takbirotul ihram saya ketika memulai shalat, walaupun dorongan dan bisikan setan agar saya mengulangnya karena belum benar begitu kuat dan berat untuk ditolak. Saya tidak ingin telapak tangan kembali mendarat dan membuat marah ayah saya.

Akhirnya usaha saya untuk menahan diri untuk tidak mengulang takbir yang diiringi dengan perasaan tersiksa karena menganggap takbir saya belum sempurna, itu mulai membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit dorongan untuk mengulang takbir semakin melemah. Saya pun akhirnya bisa terlepas sepenuhnya dari waswas setelah percobaan menahan diri dan tidak menghiraukannya beberapa kali.

Saya bersyukur karena jerat waswas di diri saya mulai melonggar dan mengurai hingga lepas seutuhnya. Barangkali ketegasan ayah saya ikut berperan besar dalam hal ini. Mungkin, hal yang diperlukan oleh orang yang terkena penyakit waswas seperti saya adalah bantuan, kesabaran, dan ketegasan dari orang-orang terdekat, tentu saja tidak perlu menggunakan telapak tangan terbang hehehe..., tukas Abu Unaisah menutup ceritanya.

Pengalaman Ummu Hafshah:
Pembaca Alukatsir Blog yang dimuliakan Allah, berikut ini pengalaman Ummu Hafshah tentang penyakit waswas yang dialaminya sendiri. Kisah ibu muda ini berbeda jauh dengan kisah Abu Unaisah dari sisi bentuk waswas yang menghinggapinya dan cara sembuh darinya. Ummu Hafshah bercerita:

Dulu saya pernah terkena penyakit waswas. Seingat saya, penyakit ini mulai muncul di pikiran saya ketika saya memasuki masa baligh atau ketika saya mulai belajar pendidikan agama di salah satu pesantren setingkat smp.

Saya tidak ingat persis bagaimana awalnya penyakit waswas ini mulai menggerogoti kekhusyu'an ibadah saya. Tetapi yang saya ingat adalah penyakit ini muncul dari hal remeh dan sepele yang berkaitan dengan bersuci. Ya. Dia mulai muncul dalam bentuk keragu-raguan atas kesempurnaan cara bersuci saya dari najis.

Seingat saya, setan mulai membisikkan ke pikiran saya yang masih belia kala itu bahwa saya belum benar 'cebok'nya, air belum sampai sepenuhnya ke tempat keluarnya kotoran dari badan, dan bisikan-bisikan semisal yang membuat saya ragu terhadap cara bersuci saya dari BAK (buang air kecil) atau BAB (buang air besar) saya.

Waktu itu adalah waktu yang sangat riskan bagi saya. Saya tidak tahu bagaimana mengatasinya dan tidak tahu kemana menceritakan bisikan-bisikan yang mulai sering menghampiri saya itu. Akhirnya saya pendam seorang diri kala itu. Karena dipendam saja maka saya pun terseret ke dalam pusaran waswas yang semakin hari semakin kuat dan besar. Saya mulai mengulang-ngulang cebok saya. Saya bisa menghabiskan satu ember penuh untuk hanya sekedar bersuci dari BAK di kamar mandi waktu itu.

Tidak ada yang mengetahuinya, baik teman maupun ustadzah saya, apalagi keluarga saya yang jauh di rumah. Saya terseret ke dalam pusaran waswas yang mulai membesar tanpa menyadari betapa berbahayanya ia jika dibiarkan begitu saja tanpa dilawan.

Ternyata setan sangat lihai dalam hal ini. Bermula dari waswas dalam hal bersuci dari najis hingga berakhir kepada hal yang lebih besar. Ya. Waswas yang saya derita awalnya hanya berkaitan dengan bersuci dari najis saja. Namun dari hari ke hari penyakit satu ini semakin melangkah lebih jauh dan sangat mengganggu ketenangan saya. Saya tidak dibiarkan untuk tersiksa dengan keragu-raguan dalam bersuci dari hadats saja, tetapi mulai beranjak kepada wudhu dan shalat saya.

Sungguh sangat tersiksa rasanya jika mengingat betapa susah untuk tidak memperdulikan waswas ini yang mulai berpindah setapak demi setapak kepada hal yang paling berbahaya. Setelah waswas saya sampai ke tahap shalat, saya mulai merasakannya mulai menggerogoti keyakinan saya tentang Allah, Sang Pencipta. Sungguh sangat berbahaya bukan?

Namun apa boleh dikata, penyakit yang sangat menyiksa batin orang yang sedang menderitanya itu sudah terlanjur jauh dan parah. Kala itu saya sudah meragukan apakah Allah itu ada, dan jikapun ada maka siapa yang menciptakanNya.

Batin saya sangat menderita. Pusaran waswas saya semakin kuat dan besar hingga menyeret saya ke dalam keraguan terhadap Allah tanpa bisa dilawan atau diobati. Mungkin fisik saya tampak baik-baik saja, tetapi tidak dengan batin dan pikiran saya. Saya serasa menjadi orang yang tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ini semua. Ibadah saya terganggu, keyakinan sayapun juga terkena.

Dan di akhir kepasrahan saya terhadap kuatnya jerat waswas yang menjerat batin saya, saya tidak lupa untuk terus memanjatkan untaian-untaian doa kepada Allah agar menyembuhkan saya dari penyakit ini. Ketika saya hampir putus asa dengan penyakit ini, Allah membimbing saya kepada salah satu cara ampuh untuk menyembuhkan penyakit waswas yang menimpa saya. Bahkan bisa dikata, cara ini adalah cara yang sangat manjur untuk mengikis waswas dan membantengi diri dari bisikan setan, meskipun waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Cara yang saya tempuh adalah belajar dan belajar tentang hukum-hukum fikih seputar bersuci dari kotoran, tata cara berwudhu, dan cara shalat. Saya pelajari lebih detail tentang hukum itu semua, mulai dari pengertiannya hingga pembatal-pembatalnya. Akhirnya saya sadar bahwa ketidaktahuan saya tentang fikih itu semualah yang membuat saya mudah dibisiki setan dan dibuatnya ragu akan keabsahan ibadah-ibadah itu.

Dengan ilmu fikih saya mendapat pegangan yang kuat untuk bisa keluar dari pusaran waswas. Dan sebelum itu, dengan mempelajari ilmu tauhid saya berhasil terlepas dari jerat waswas. Tentu saja itu semua berkat pertolongan dan taufiq dari Allah semata.

Maka saran saya untuk orang yang terkena penyakit waswas: hendaknya ia mencari titik dimana waswas itu mulai muncul. Jika ia muncul dari keraguan atas keabsahan wudhunya maka ia harus mempelajari hukum-hukum fikih seputar wudhu. InsyaAllah dengan begitu penyakitnya akan mulai memudar seiring dengan pemahaman agama kita yang semakin bertambah, nasehat Ummu Hafshah yang sekarang sudah sembuh total dari waswas sambil menutup penuturan kisahnya.    

Pengalaman Ummu Adib:
Tidak sama dengan pengalaman terlepas dari penyakit waswas Abu Unaisah dan Ummu Hafshah, Ummu Adib memiliki kisahnya sendiri. Seorang ibu muda yang baru mendapat putra ini menceritakan kepada saya bagaimana dirinya bisa sembuh dari penyakit waswas yang sempat menimpanya.

Tetapi sepertinya saya harus meringkas cerita Ummu Adib kali ini karena artikel saya sudah terlalu panjang. Baiklah Pembaca Alukatsir Blog, berikut ini kisah dan pengalamanya:

Ketika awal-awal di pesantren, tepatnya saat belajar di jenjang Tsanawiyah (setingkat SMA), saya pernah terserang penyakit waswas. Saya dibuat ragu terhadap wudhu saya. Saya sampai basuh berulang-ulang karena penyakit waswas yang sangat menyiksa ini, tutur Ibu muda yang sebelum menikah sempat mengajar di pesantren tempatnya belajar dulu.

Ringkasnya...saya berhasil sembuh dari penyakit ini karena diperingatkan oleh salah seorang kakak kelas saya. Setelah mengetahui bahwa saya tertimpa waswas, kakak kelas saya segera membantu saya menghadapi penyakit yang sudah lazim menimpa anak pondok atau ramaja yang baru belajar menjalankan kewajiban agamanya, lanjut Ummu Adib.

Dia menjelaskan seluk beluk waswas dan cara menanggulanginya kepada saya tanpa diminta. Dia dengan gigih menemani saya untuk berwudhu sambil membimbing saya dengan lembut dan meyakinkan saya agar tidak menyiram kembali anggota badan yang wajib dibasuh ketika berwudhu. Bahkan terkadang dia berubah jadi sosok yang tegas dan mulai memarahi saya jika dilihatnya saya tidak bisa mengalahkan bisikan waswas ketimbang mendengarkan larangannya untuk tidak mengulang-ngulang siraman air saat berwudhu.

Dengan galaknya dia meyakinkan saya bahwa saya sudah sempurna dalam membasuh anggota-anggota badan yang wajib dibasuh ketika berwudhu. Tetapi sikap tegas dan galaknya itu hanya terjadi beberapa kali saja, sisanya dia lebih sering menemani dan membimbing saya dengan lembut. Barangkali dia kasihan lihat adik kelasnya menderita karena waswas, atau dia dulu juga pernah merasakannya dan ingin membantu siapa pun yang terkena penyakit yang sama dengan penyakitnya dahulu.

Apapun alasannya, yang jelas karena sering ditemani dan dibantu ketika berwudhu maka saya dapat mengalahkan bisikan-bisikan halus yang sering datang, alhamdulillah. Dan itu tidak berlangsung lama karena ada yang mau membantu saya dalam menghilangkan penyakit waswas tersebut, tutup Ummu Adib sambil berulang kali memuji Allah atas kesembuhannya dari waswas. 

Ummu Adib juga sempat menceritakan secara singkat kejadian yang terjadi di pesantren tempatnya mengajar yang tidak lain adalah pesantren yang sama tempatnya belajar dulu. Dia bercerita:
Biasanya santriwati-santriwati saya bila melihat ada salah satu teman mereka yang mulai menunjukkan gejala-gejala penyakit waswas maka mereka akan memperhatikan teman mereka tadi secara bergiliran atau serentak agar penderita waswas tadi merasa bahwa ia dibantu dan diperhatikan oleh teman-temannya, bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi penyakitnya itu. Hal itu mereka lakukan sampai teman mereka betul-betul sembuh dan tidak waswas lagi, tukas Ummu Adib singkat.

***
Kesimpulan & Saran...
Pembaca Alukatsir Blog yang dirahmati Allah, saya minta maaf jika kisah-kisah yang saya tuliskan ulang di postingan kali ini lumayan panjang dan membuat penat mata Anda. Tetapi saya berharap sedikit kisah dari orang-orang yang pernah terkena penyakit waswas dapat memberi semangat dan inspirasi bagi setiap pembaca yang sedang berjuang untuk bisa sembuh dari penyakit waswas atau menjadi bahan pertimbangan bagi siapa saja yang mendapati orang terdekatnya sedang diuji oleh Allah dengan penyakit ini.

Baiklah. Saya akan coba membuat kesimpulan dari sejumlah kisah diatas:
1. Penyakit waswas adalah penyakit yang lazim menimpa siapa saja, terlebih pemuda-pemudi yang mulai belajar menjalankan perintah-perintah agama: baik istinja (bersuci dari kotoran), wudhu, mandi wajib, hingga shalat. Dan inilah titik-titik yang sering diserang oleh penyakit waswas.

2. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Termasuk dalam hal ini adalah penyakit waswas. Penyakit waswas bisa disembuhkan, baik itu dengan memperdalam ilmu ataupun dengan bantuan dan dorongan dari orang lain.

3. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh oleh orang yang sedang diuji oleh Allah dengan penyakit waswas: pertama dengan belajar ilmu syar'i baik dengan hadir di majlis ilmu, membaca artikel, maupun mendengar rekaman kajian. Kedua dengan perhatian dan bantuan orang lain yang berkenan membantu dan meluangkan waktunya bersama kita. Dan ketiga dengan paksaan dan ancaman dari orang lain seperti ayah kita.

Adapun saran dari saya maka saya akan bagi menjadi dua bagian:

Pertama: Saran Untuk Orang Yang Sedang Tertimpa Penyakit Waswas
1. Jangan pernah malu untuk membicarakan penyakit waswas Anda kepada orang yang Anda anggap dapat membantu dan menguatkan Anda. Tidak ada kata untuk terlambat walaupun waswas Anda sudah menimpa Anda bertahun-tahun lamanya.

2. Ingatlah selalu bahwa setiap penyakit bisa disembuhkan, termasuk juga penyakit waswas Anda. Yang perlu Anda lakukan adalah berusaha dan tetap berusaha untuk mengikis penyakit yang sedang menimpa Anda tersebut.

3. Jangan pernah putus asa dan meninggalkan doa kepada Allah. Bersabarlah karena Allah tidak menurunkan cobaan di luar batas kemampuan Anda. Menangis dan adukanlah segala kesusahan dan kepayahan Anda dalam menghadapi penyakit ini kepada Allah, pintalah kepadaNya kesembuhan karena Dialah Rabb yang Maha Kuasa. Dan bisa jadi kesembuhan Anda diturunkan melalui kepasrahan Anda kepada Allah dan perhatian atau ketegasan orang di sekitar Anda.

4. Teruslah memperdalam ilmu syar'i dan pemahaman Anda akan agama ini, terkhusus ibadah-ibadah yang Anda terkena waswas didalamnya. Anda bisa menghadiri kajian-kajian ilmu yang disampaikan di masjid-masjid, atau membaca buku dan artikel-artikel agama di sejumlah situs terpercaya atau searching di situs Yufid.Com, ataupun menyimak rekaman kajian dalam bentuk video seperti situs Yufid.TV sediakan, atau bisa juga menyimaknya dalam bentuk rekaman mp3 seperti yang tersedia di situs Kajian.Net. Beberapa situs yang saya sebutkan tadi adalah contoh saja, dan selain itu juga masih banyak situs yang Anda bisa manfaatkan.

Kedua: Saran Untuk Siapa Saja Yang Mendapati Orang Terdekatnya Terkena Waswas
1. Saran pertama saya kepada siapa saja yang melihat atau mendapati orang terdekatnya: anak, isteri, suami, adik, atau kakak tercintanya tengah berjuang menghadapi penyakit waswas adalah agar Anda memakluminya dan tidak memarahi apalagi mencecarnya dengan ucapan yang malah membuatnya semakin lemah terhadap waswasnya.

2. Perlu diketahui bahwa waswas yang Anda dapati di diri orang terdekat Anda pada hakikatnya adalah sebuah penyakit. Penyakit ini memiliki dampak buruk terhadap penderitanya, hanya saja derita yang ditimbulkannya bukan bersifat fisik atau kasat mata. Dan sakit yang ditimbulkan lebih mengarah kepada batin dan pikirannya. Oleh karena itu, hendaklah Anda memperlakukan orang yang terkena waswas tersebut layaknya orang yang sedang sakit fisik, perhatikan dan perlakukanlah ia dengan lembut sebagaimana Anda pasti memberikan perhatian kepada orang terdekat Anda ketika ia sakit panas atau patah tulang.

3. Yang terakhir, pada dasarnya orang yang tengah diuji oleh Allah dengan penyakit waswas menginginkan dari kita selaku orang-orang terdekatnya perhatian dan kesabaran kita dalam membantu dan menghadapinya. Mungkin kita akan berpikir kenapa harus menghabiskan air seember hanya untuk membasuh bekas kencing, atau kita akan bertanya sinis kenapa harus mengulang-ngulang bacaan takbiratul ihram yang anak kecilpun bisa dengan mudah melafalkannya. Apa susahnya istinja dengan sedikit air, apa sulitnya berwudhu tanpa mengulang-ngulang dan berlebihan menyiramkan air, dan apa beratnya untuk tidak membatalkan shalat yang sudah separuh jalan dikerjakan???

Saudaraku, itu bisa muncul di benak kita atau meluncur dari lisan kita kepada orang-orang yang Allah uji dengan ujian berupa waswas karena kita tidak merasakan apa yang dirasakan mereka yang tengah berjuang menghadapi waswas mereka. Doakan agar mereka sembuh, maklumi waswas mereka, berikan perhatian dan bantuan kita kepada mereka agar terbebas dari jerat waswas mereka.

Demikian dan semoga bermanfaat postingan kali ini. Wa shallallahu ála Nabiyyina Muhammad wa ála alihi wa shahbihi wa sallam.

***

15 komentar

  1. jazakallah khairan..
    Apa yg tertulis diatas sangat bermanfaat sekali khususnya bagi saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajazakumullah khairan. Alhamdulillah, semoga isi postingan ini bisa menjadi bahan inspirasi dan motivasi buat kita semua.

      Hapus
  2. Alhamdulillah... Terima kasih ya... Sangat membantu sekali... Jd intinya was was itu mesti dilawan... Sekali di ikutin akan terus menjalar ke bagian lain yg malah fatal

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama. mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi setiap orang yang sedang berjuang melawan waswas.

      iya betul. waswas dilawan dengan tidak menuruti kemauannya karena sekali dituruti maka akan 'minta'yang lain.

      terima kasih atas kunjungannya, barakallahu fikum.

      Hapus
  3. Alhamdulillah... Terima kasih ya... Sangat membantu sekali... Jd intinya was was itu mesti dilawan... Sekali di ikutin akan terus menjalar ke bagian lain yg malah fatal

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah... Trima kasih ya...
    Sangat membantu sekali... Intinya mesti dilawan jangan diikuti... Wlwpun berat, Tp harus dilawan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali 👍🏼👍🏼👍🏼

      BarokAllahu fikum.

      Hapus
  5. Syukron atas artikelnya. Semoga saya bisa segera sembuh dari penyakit waswas ini. Aamiin.
    Saya sudah 20 tahun lebih menderita waswas dalam sholat. Beberapa tahun terakhir bahkan waswas merembet ke wudhu. Banyak tips sudah saya baca agar sembuh. Tapi sampai saat ini blm juga berhasil. Hingga kadang saya putus asa. Astaghfirullaah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali dan semoga Allah menyembuhkan dan membantu Anda untuk lepas dari penyakit waswas.

      Mudah-mudahan Allah menjadikan setiap kepayahan, perjuangan, dan kesabaran Anda selama 20 tahun tersebut pemberat timbangan kebaikan Anda di Hari Kiamat kelak, menghapus kesalahan-kesalahan Anda, dan meninggikan derajat Anda disisiNya. Amin.

      Terus berjuang dan jangan pernah putus asa dari rahmat dan pertolongan Allah karena setiap kita tidak dibebankan ujian melainkan sesuai dengan kadar kemampuan kita. barakAllahu fikum.

      Hapus
  6. Saya sudah 9 tahunan kena pnyakit was was, awalnya pas wudhu, terasa sperti ada angin yg kluar , krn ragu2 jd sy ulangi, tp kok kyk kluar lg, akhirnya sy ulangi lg dan lagi. Krn sy turuti akhirnya merembet ke mslh najis, dan niat sholat,, dan akhirnya ke kpercayaan, bisikan itu hampir mmbuat sy gila, dan org2 sudah mengecap sy gila, krn stiap sholat di mushola sllu tertinggal krn mengulang2 wudhu dan niat sholat.
    Singkat cerita sy smpet sembuh,tp ktika sy pny masalah besar dan mngganggu pikiran sy, was was itu kembali lg, dan sy turuti lg, wlpn tdk separah dlu, tp sangat mngganggu.
    Trima kasih artikelnya, sngat mmbantu, smoga sy bs sembuh total dr pnyakit was was ini,krn sngt mnyiksa sekali,sholat tdk khusyuk, krn mmikirkan sah atau tidak. Sudh bnyk nasehat dr ustadz dan kerabat, tp bisikan setan inu jg kuat, dan akhirnya sy terseret lg dlm arus was was. Smoga ALLAH sgera mnyembuhkan kita smua dr pnyakit was was ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak kpd Anda yg berkenan mampir di blog ini dan berbagi pengalaman seputar waswas Anda.

      Semoga Allah mengangkat derajat Anda dan menghapus kesalahan2 Anda melalui perjuangan Anda menghadapi waswas selama 9 tahun tersebut.

      Kondisi yg Anda paparkan itu persis sama dengan kondisi yg dihadapi oleh orang terdelat saya. Tetapi bedanya Anda berhasil sembuh sedang dia dalam proses menuju kesana insyaAllah.

      Terkadang waswas itu menguat dan terkadang pula melemah sesuai kondisi dan psikologis orang yg bersangkutan. Kadang, ketika dapat dukungan dan pencerahan, org yg sedang diuji dgn waswas itu bisa menjalani ibadahnya dgn mudah. Dan kadang2 ketika sedang banyak pikiran atau masalah lain, org yg bersangkutan sedikit berat menjalankan ibadahnya.

      Semoga Allah menyembuhkan semua orang yg tengah berjuang sembuh dari ujian satu ini dan semoga Allah mengganti setiap kepayahan dan kesusahan mereka dengan pahala yg besar dan surga firdausNya. Amin.

      BarokAllah fikum.

      Hapus
  7. Allahu akbar, saya sudah 4 bulan mengalami was-was dan saya masih mengalami hingga sekarang. Semoga Allah merahmati penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Allahu sembuhkan waswas Anda. Terima kasih sudah mampir. Barokallahu fik.

      Hapus
  8. Sayangnya was was saya bukan hanya perihal was was wudhu atau pun sholat. Lebih dari itu, saya terkena penyakit was was tentang Allah Subhanahu Wata'ala. Saya sangat sangat benci dengan apa yang terlintas dihati saya mengenai zat Allah. Tapi saya tidak punya kuasa untuk menghentikannya. Saya stres, harus bagaimana? :""(((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saudari yang dimuliakan Allah, hal pertama yang Anda harus yakini: Waswas tentang Allah tidaklah seberat yang Anda kira!

      Kebencian Anda, bahkan Anda katakan sangat benci dengan waswas di hati Anda tentang Allah justru menunjukkan kekuatan iman di diri Anda yang berusaha menolak waswas yang dibisikkan oleh setan.

      Dan ini bukan hanya terjadi pada Anda. Sebagian sahabat pernah melaporkan apa yang menimpa mereka kepada Rasulullah, yaitu pikiran-pikiran aneh tentang Allah (waswas dalam hal itu), Rasulullah malah memuji mereka karena mereka berusaha melawan dan menepis lintasan pikiran tersebut, bahkan mereka justru membencinya.

      "Justru itu adalah indikasi keimanan kalian yang kuat terhadap Allah", tegas Rasulullah kepada mereka.

      Jadi, Anda tidak perlu khawatir, apalagi stres akan hal ini. Kebencian Anda ketika pikiran itu muncul adalah bukti terkuat bahwa Anda adalah orang yang beriman kepada Allah, tidak keluar sama sekali dari Islam.

      Adapun yang perlu Anda lakukan dalam hal ini maka sebagai berikut:

      pertama,pelajari kembali pejaran seputar tauhid dan akidah terhadap Allah. Anda bisa mendapatkannya dengan hadir di kajian ilmu yang membahas itu, atau melalui situs-situs bermanfaat seperti www.yufid.tv atau www.kajian.net.

      kedua, perbanyak membaca Al-Qur'an dan dzikir kepada Allah. Jika Anda membutuhkan teks-teks dzikir untuk dibaca maka Anda bisa mencarinya di www.yufid.com

      ketiga, setiap kali pikiran itu muncul maka bacalah 'Audzubillahi minasyaithanirrajim'(berlindung kepada Allah dari setan). Bisa juga Anda menambahnya dengan membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Nas.

      Cukup tiga langkah tersebut, insyaAllah Anda bisa melewatinya dan menghilangkannya. Semoga Allah memudahkan dan menguatkan hati Anda dalam melawan bisikan jahat setan.

      Hapus

My Instagram