Adab Dan Aturan Dalam Memberi Nasehat

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini untuk kita, melengkapi berbagai nikmat dan karuniaNya untuk kita. Segala pujian sekali lagi tertuju hanya kepadaNya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan untuk Nabi kita, Nabi Muhammad yang telah menerangkan dan menyelesaikan amanat kenabian dan risalah yang dibebankan kepada beliau hingga beliau wafat.

Pembaca Alukatsir Blog yang dikasihi Allah, di kesempatan ini saya akan coba jabarkan penjelasan seputar adab dalam memberikan nasehat kepada sesama muslim. Hal ini terkadang dilupakan oleh sebagian orang yang bersemangat dalam memberi nasehat tetapi melupakan adab dan aturannya.
foto via hdwallsource.com

Oleh sebab itu, pada artikel kali ini saya akan bawakan sebuah arahan dan wejangan berharga yang pernah disampaikan oleh Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi. Wejangan beliau ini cukup singkat namun sarat akan makna dan faidah berharga yang berkaitan dengan nasehat-menasehati antar sesama agar tujuan dari nasehat itu sendiri tercapai dan bukan sebaliknya.

Baiklah. Berikut ini terjemahan dari wejangan beliau tersebut. Selamat membaca dan merenunginya: 

Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh hafidzahullah berkata di salah satu khutbah beliau yang berjudul Adab An-Nashihah pada tanggal 21/6/1432 H:

Wahai muslim, konsekuensi dari kecintaan yang berlandaskan iman dan persaudaraan yang berasaskan Islam adalah Engkau berusaha memberikan nasehat untuk saudaramu ketika Engkau melihat ada perbuatan yang keliru dan salah darinya di matamu. Engkau harus menasehatinya selaku saudarmu sesama muslim sebagai rasa tanggung jawabmu untuk menyelamatkannya dari azab Allah, sekaligus menggandeng tangannya untuk sama-sama menggapai kebaikan agama dan dunianya.

Akan tetapi perlu diingat bahwa dalam memberikan nasehat itu ada kaidah dan aturannya sekira nasehat tersebut mengena, menjadi bermanfaat, dan bisa merealisasikan tujuan dari nasehat itu sendiri.

Yang Pertama: Engkau harus ikhlas dalam memberikan nasehatmu. Karena sejatinya, orang yang memberikan nasehat itu harus menyertakan keikhlasan (di dalamnya) untuk Allah, kemudian untuk (kebaikan) saudaranya sesama muslim, bukan karena riya (ingin dilihat atau dipuji) atau pun sum'ah (ingin didengar dan disanjung). Bukan pula untuk berbangga diri dan merasa hebat karena mampu menasehati. Bukan juga untuk mencapai sesuatu di mata orang-orang sehingga bisa memiliki kedudukan dan terpandang.

Namun harusnya nasehat itu muncul dari relung hati yang betul-betul mengharapkan kebaikan dan berusaha mewujudkannya (untuk orang yang dinasehatinya).

Orang-orang yang ikhlas dalam nasehat mereka adalah mereka yang meletakkan nasehat itu pada tempatnya, mereka tidak menyebut-nyebut ataupun memperbincangkannya, apalagi sampai membangga-banggakannya. Akan tetapi nasehat itu harus bersifat tidak terang-terangan, penuh rasa amanah di antara mereka dan orang yang dinasehati tersebut.

Karena sesungguhnya tujuan orang-orang yang ikhlas dalam menasehati adalah kebaikan yang diharapkan terjadi pada saudara mereka sesama muslim, keistiqamahannya, dan tetap menjaga kehormatannya, serta bukan bertujuan untuk meraih kedudukan dan martabat di mata masyarakat.

Orang yang hendak memberikan nasehat wajib mengetahui dan mengerti tentang substansi dari nasehatnya itu. Bukankah tidak sedikit terjadi, orang yang menganggap suatu kesalahan adalah kebenaran namun justru ia malah mengajak kepada selain petunjuk Nabi (dengan anggapan yang keliru tadi). Lantas ia malah menasehati tanpa didasari ilmu yang benar sehingga apa yang ia rusak lebih besar ketimbang apa yang diperbaikinya.

Oleh sebab itu, mengerti dan paham tentang isi dari nasehat sendiri dengan mencari tahu dahulu bahwa sebuah kesalahan itu memang salah dan mencari tahu cara bagaimana agar saudaramu sesama muslim tadi bisa terlepas dari kekeliruan tersebut.

Yang ketiga: nasehat itu harus jauh dari tasyhir (menyebarkannya ke orang-orang), maupun kata-kata yang mengandung umpatan dan merendahkan orang yang berbuat salah. Karena orang yang mencela, merendahkan orang lain, merasa senang dengan kesalahan orang lain, mencari-cari tahu kejelekan-kejelekan orang-orang, dan selalu berusaha untuk melihat orang berbuat salah dan keliru, maka orang yang semacam ini bukanlah orang yang pantas untuk memberikan nasehat, justru ia adalah orang yang berbuat tidak baik dan membahayakan.

Model orang seperti ini tidak termasuk orang-orang yang diberi taufiq dan bimbingan menuju kepada kebaikan karena pada dasarnya ia tidak menginginkan kebaikan. Ia hanya mengatasnamakan agama dan kebaikan sebagai jalan untuk menjelek-jelekkan orang yang diinginkannya.

Makanya, Engkau bisa melihat orang yang semacam ini: yang gemar mencela, merendahkan dan senang dengan kesalahan orang lain, ia tidak akan ragu untuk menasehati orang lain secara terang-terangan, menampakkan kesalahan orang di hadapan khalayak ramai supaya martabat orang yang dinasehati tadi jatuh di mata masyarakat, dan supaya semua orang tahu aib-aib orang yang dinasehatinya tadi yang bisa saja tidak diketahui oleh sebagian mereka.

Dengan begitu, orang yang memberikan nasehat dengan cara semacam ini adalah orang yang buruk dan bukan orang baik, orang yang justru merusak dan bukan orang yang memperbaiki, orang yang mengumbar aib dan bukan menutupinya.

Makanya ada sebuah riwayat yang berbunyi:

"Siapa saja mencela dan merendahkan saudaranya dikarenakan dosa (yang dilakukan) maka ia tidak akan wafat kecuali ia juga akan melakukan dosa (yang sama)".

Dalam sebuah atsar disebutkan: "Jangan sekali-kali kamu menunjukkan celaan terhadap saudaramu (karena dosa yang dilakukannya) karena bisa jadi kemudian Allah melepaskannya dari dosa itu dan mengujimu dengan (dosa tersebut)".

***

Demikian apa yang saya bisa terjemahan di postingan pendek kali. Semoga bermanfaat bagi diri dan segenap pembaca Alukatsir Blog. Amin.


0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram