Syaikh Utsaimin Mengupas Tuntas Tipu Daya Setan Dalam Waswas Dan Cara Mengobatinya

Pertanyaan:
Aku seorang perempuan yang sudah menikah dan memilki 2 anak yang masih kecil. Aku bersyukur kepada Allah atas karunia yang besar ini. Aku selalu berusaha untuk menjaga shalat 5 waktu dan mengerjakannya di waktu-waktu yang sudah ditentukan.


Aku juga berusaha untuk tidak melewatkan bacaan Al-Qurán setiap hari.
foto via hdwallsource.com


Tetapi ada satu hal yang sangat mengganjal di hatiku. Ada masalah di setiap kali aku ingin mengambil wudhu dan di setiap aku ingin menunaikan shalat wajib.

Sepertinya aku sedang dicoba dengan penyakit waswas yang selalu terngiang di telingaku bahwa wudhu yang ku kerjakan barusan tidak sempurna. Begitu pula shalatku, selalu ada bisikan yang membuatku selalu ragu akan keabsahan atau kesempurnaan shalatku tersebut.

Masalah ini terus-terusan terjadi denganku. Maka aku mohon Anda berkenan memberikan nasihat kepadaku tentang apa yang mesti ku lakukan?

Demikian dan semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan wahai Syaikh yang mulia?


Jawaban:
Iya betul. Itu adalah waswas yang berasal dari setan. Allah telah menerangkan kepada kita semua bahwa setan itu adalah musuk kita, Allah berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian. Maka sudah semestinya kalian juga menjadikannya musuh". [QS. Fathir: 6]

Dan setan tidak akan berhenti untuk membisikkan waswas atau keragu-raguan dalam ibadah, muamalah, dan segala kondisi seseorang. Sampai-sampai ia tidak mau membiarkannya yakin terhadap satu perkara pun dari perkara-perkara yang dimiliki orang tersebut.

Bisa jadi, setan itu merusak ibadah seseorang melalui berbagai celah yang ada. Dan penangkal itu semua adalah dengan istiánah (meminta pertolongan Allah, Pent) untuk bisa melawan setan tersebut.

Hendaklah kita senantiasa meminta tolong kepada Allah agar dikuatkan dan diteguhkan untuk menghadapi waswas yang dihembuskan setan kepada kita.

Sebagai contoh, di dalam masalah thaharah (bersuci dari najis, Pent), setan akan mendatangi seseorang dan membisikkannya:

Kamu belum membasuh tanganmu sama sekali!
Kamu belum menyelesaikan dan menyempurnakan wudhumu!
Kamu melewatkan satu anggota badanmu yang wajib kena air wudhu!

Dan bisikan-bisikan semisal ini. Bahkan bisa jadi bisikan seperti tadi juga muncul setelah Anda selesai berwudhu. Obatnya adalah dengan Anda mengucapkan: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk" dan segeralah menjauh dari tempat wudhumu, walaupun bisikan setan ke telinga atau kepala Anda semakin kencang agar Anda kembali menyempurnakan wudhu atau agar Anda membasuh bagian yang belum terbasuh.

Maka Saya tegaskan disini bahwa janganlah sekali-kali Anda menaruh perhatian sedikitpun terhadap bisikan seperti ini, apalagi selama Anda terkena cobaan berupa penyakit waswas yang berkesinambungan ini.

Ketika shalat misalnya, setan juga akan mendatangi seseorang dan berusaha membuatnya ragu bahwa shalatnya belum sempurna atau tidak sah, atau ruku'nya kurang, atau sujudnya kelewatan, dan bisikan semisalnya.

Maka sekali lagi hendaknya orang tadi tidak menggubrisnya sama sekali sembari meminta betul-betul pertolongan Allah untuk menghadapi bisikan-bisikan setan yang terkutuk tadi. Yakinlah bahwa setan tidak akan mampu mencelakainya sedikitpun (karena ia hanya mampu membisikkan, bukan memaksanya).

Bahkan bisa jadi setan juga mendatangi seseorang dan membisikkan ke pikirannya bahwa ia telah mentalak isterinya, atau menggambarkan kepadanya bahwa ia telah terlanjur berucap kepada isterinya: "jika Engkau berbuat ini dan itu maka Engkau ku talak", dan seterusnya sedangkan itu tidak pernah terjadi sama sekali, hanya sekedar waswas yang dihembuskan oleh setan tadi.

Mungkin sebagian orang juga ada yang sampai ke tahap membatalkan ibadahnya gegara waswas tadi.

Sebagai contoh lagi, setan mendatangi seseorang dan membisikkan kepadanya bahwa wudhunya telah batal padahal pada kenyataannya tidak batal sama sekali. Akan tetapi dikarenakan bisikan tersebut begitu meyakinkannya maka akhirnya ia pun mengambil air wudhu kembali.

Kemudian setelah ia selesai berwudhu, setan tidak membiarkannya tenang, ia akan kembali mengganggu dan mempermainkan wudhunya dengan membisikkan ke pikirannya seolah-olah ada keluar sesuatu dari badannya yang membatalkan wudhunya.

Akhirnya karena saking kuatnya bisikan tadi, orang itupun mengeluarkan sesuatu dari badannya yang membatalkan wudhunya sehingga ia pun kembali mengambil air wudhu.

Begitu seterusnya, ia merasa batal dan berwudhu, membatalkan wudhunya tadi dan berwudhu lagi. Begitulah yang terjadi pada dirinya jika ia mulai mendengarkan satu bisikan setan hingga datang bisikan-bisikan lainnya.

Dalam shalat pun setan tetap akan mengganggunya. Ia mendatanginya setelah orang tadi baru melaksanakan satu rakaát shalat atau lebih, ia akan berbisik: "Tadi kamu sepertinya belum takbir takbiratul ihram"atau "Sepertinya kamu belum sempat berniat sebelum mulai shalat".

Hingga akhirnya orang itupun membatalkan shalatnya (yang sudah berjalan satu rakaát atau lebih) dan memulai kembali shalatnya dari awal.

Manakala ia mulai lagi, maka saat itu pula setan kembali mengulangi bisikan-bisikannya seperti kamu belum berniat atau belum takbir. Akhirnya orang tadi kembali mengulang shalat dan begitu seterusnya hingga waktu shalat habis karena dia tidak selesai-selesai dan mengulang-ulang shalatnya.

Perkara ini tidak hanya sebatas mengganggu perbuatan atau amalan seseorang saja, melainkan juga mengganggu kondisi kejiwaan dan pikirannya hingga ia merasa lelah (dengan pikiran-pikiran yang bergelayut di kepalanya tadi, Pent).

Dalam perkara talak, setan akan berusaha meyakinkan seorang suami: "Kamu barusan menceraikan isterimu", padahal ia tidak mentalaknya sama sakali, itu hanya waswas yang ada di pikirannya.

Kemudian setan kembali membisikkan kepadanya: "Berhubung sudah terjadi maka Engkau istirahatlah" hingga talak pun betul-betul terjadi. Bahkan bisa jadi itu terjadi hingga talak terakhir yang diperbolehkan untuk rujuk. Orang itupun terseret ke dalam masalah besar akhirnya.

Sesungguhnya penangkal dan obat dari itu semua adalah dengan berlindung kepada Allah dari segala godaan dan bisikan setan yang terkutuk, kemudian dia tetap fokus dan meneruskan ibadahnya yang sedang dikerjakannya hingga selesai.

Sebagaimana arahan yang diberikan oleh Nabi shallallahu álaihi wa sallam dalam hal ini kepada orang yang diganggu dan dibisikkan setan: "Siapa yang menciptakan ini. Siapa yang menciptakan itu?" hingga orang tersebut dibisikkan "Lantas, siapa yang menciptakan Allah?".

Nabi mengajari orang tersebut agar berlindung kepada Allah dengan berucap: Áudzu billahi minas syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, Pent).
Kemudian orang tersebut disuruh agar berhenti berpikiran seperti itu atau agar berhenti mendengarkan bisikan-bisikan tadi dan tidak menggubrisnya sama sekali.

Ini adalah bentuk cobaan yang menimpa sebagian orang. Bahkan terkadang ada sebagian orang yang bertanya (kepadaku) bahwa setan telah mengatakan kepadanya: "Kamu sedang shalat ke arah patung!" padahal tidak ada patung satu pun di rumahnya, atau bahkan ia sendiri tidak tahu apa itu patung.

Namun begitulah setan, ia akan berusaha memperdaya dan menipu kita dengan berbagai cara. Sampai-sampai ia pun membisikkan kepada orang tadi: "Kamu shalat untuk Allah, tetapi dimana Allah itu?"

Setan berusaha menyeretnya ke jurang pengingkaran atas keberadaan Allah, semoga Allah menyelamatkan kita semua dari hal semacam ini.

Dan hendaknya ketika setan berusaha membisikkan hal ini, orang tersebut segera berkata kepada dirinya sendiri sembari yakin: "Bukankah aku sudah berwudhu, dan aku pun shalat untuk Allah. Bukankah ini adalah bentuk keimananku kepada Allah karena tidak ada orang yang berwudhu dan shalat melainkan ia seorang yang berimana kepada Allah Azza wa Jalla!?".

Ketahuilah bahwa tidaklah seseorang itu mengambil air wudhu dan kemudian shalat melainkan itu adalah indikasi keimanan kepada Allah dan ini yang dinamakan beriman.
Oleh karenanya, barangsiapa didatangi setan dan dibisiki di pikirannya dengan berbagai bisikan tadi maka wajib baginya untuk mengusir jauh-jauh setan tadi dengan 2 hal yang telah dijelaskan:

Pertama: dengan istiádzah (berlindung kepada Allah) dari berbagai godaan dan bisikan setan yang terkutuk.

Kedua: tidak mendengarkannya, apalagi menggubrisnya, tetap meneruskan ibadah yang dikerjakan tanpa membatalkannya sama sekali atau berpikiran untuk membatalkannya.
Setelah melakukan 2 hal ini maka insyaAllah waswas dan bisikan-bisikan setan akan hilang dengan sendirinya atau berkurang sedikit demi sedikit.


Catatan:
Artikel ini berasal dari fatwa dan jawaban berbahasa arab Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah: Silsilatu Fatawa Nur alad Darbi, kaset no. 205 dengan beberapa penyesuaian dari Alukatsir Blog.

Semoga bermanfaat untuk segenap Pembaca blog ini.


Baca juga:
 

14 komentar

  1. Dengan Hamba Allah. Assalamualaikum, terimaksih atas artikelnya yang sangat membantu atas penderitaan waswas yang dialami saya selama lebih dari 25 thn, dan saya selalu berusaha untuk kesembuhannya, namun sampai saat ini waswas saya tetap belum hilang, sehingga membuat capek dalam beribadah. Dari artikel diatas salah satu cara untuk menghilangkannya adalah tidak menggubrisnya meskipun bisikan tersebut semakin kencang. Pertanyaan saya, ketika ada waswas apakah boleh meneruskan amalan tsb andaikan apa yang diwaswaskan itu benar adanya (tidak mengulangi amalan tsb untuk menutupi resiko)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waálaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih kepada saudara yang menyempatkan mampir dan semoga bermanfaat.

      Mengenai pertanyaan saudara tadi, hendaknya bagi siapa saja yang tengah diuji dengan waswas agar tetap meneruskan amal yang sedang dikerjakan tersebut. Selama ia dalam kondisi waswas maka ia tidak bisa putuskan apakah benar adanya apa yang diwaswaskan kepadanya.

      Bahkan jika memang pada kenyaatannya benar maka bagi seorang yang sedang diuji dengan waswas agar tetap meneruskannya dan semoga Allah mengampuni amalan yang kurang tersebut. Karena kondisi orang yang waswas memang berbeda, ada keringanan didalamnya hingga ia dapat terlepas dari jerat waswas setan tersebut.

      Kira-kira begitulah jawaban yang saya dengar langsung dari salah satu Syaikh di Madinah, yaitu Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily ketika ditanya perihal waswas.

      Demikian dan mudah-mudahan bermanfaat.

      Hapus
    2. Terimakasih atas jawaban, sehingga dapat menjadi obat badi saya

      Hapus
  2. Assalamualaikum, meneruskan pertanyaan yang lalu perihal penyakit waswas terutama dalam niat ketika akan memulai melaksanakan sesuatu merasa belum berniat, sehingga untuk meyakinkan, niat itu diperbaharui dengan menyusun kata-kata dalam HATI seperti ungkapan "saya ingin wudu" ketika akan wudu tapi setelah itu merasa belum pas atau belum sah sehingga diulang-ulang sampai beberapa kali, untuk itu saya memohon nasihatnya. Kemudian ada beberapa pertanyaan
    1. Bila sudah berniat untuk wudu tapi sebelum wudu dimulai saya sempat kencing dulu, apakah niat tersebut rusak/batal tidak sehingga perlu diperbaharui, ataukah masih berlaku sehingga saya stelah kencing langsung memulai amalan wudu dst sd selesai.
    2. Bila ada waswas niat kemudian tidak digubris dan diteruskan sd selesai dengan berpedoman kepada "Setiap amal pasti diawali dengan niat" benarkah sikap saya? sebelumnya diucapkan terima atas saran nasihatnya

    BalasHapus
  3. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

    Kepada Saudara/i yang dimuliakan Allah, mengenai masalah menyusun kata-kata dalam hati sebagai ungkapan niat untuk berwudhu maka hendaknya Anda mencukupkannya satu kali saja tanpa perlu mengulangnya walau Anda ragu.

    Agar Anda lebih tenang maka ada yang perlu diketahui seputar niat disini. Niat itu adalah keinginan. Ketika Anda sudah mulai melangkahkan kaki, mengambil air wudhu, dan membasuh satu persatu anggota badan maka itu sudah terhitung niat, sehingga tidak perlu diulang-ulang kembali. Maka tidak perlu khawatir akan keabsahan wudhu Anda.

    Adapun mengenai pertanyaan pertama, niat Anda tidak rusak apalagi batal.

    Untuk pertanyaan kedua, memang sudah menjadi hal yang ditetapkan di syariat Islam bahwa setiap amal itu harus diawali dengan niat. Dengan niat, antara ibadah dan kebiasaan bisa dibedakan. Dengan niat pula, antara amal yang wajib dan amal yang sunnah bisa ditentukan walaupun tata cara pelaksaannya sama.

    Oleh karena itu, sikap Anda yang berpedoman dengan "setiap amal harus diawali dengan niat" itu sudah tepat. Dan Anda tinggal menambahkan sedikit usaha lagi untuk tidak menggubris amal yang Anda kerjakan tersebut.

    Mudah-mudahan Allah menerima amal kita semua, yang sedikit maupun yang banyak. Dan semoga Allah segera mengangkat waswas dari diri kita semua.

    Demikian. Semoga bermanfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih atas ilmunya yang sangat membantu saya, kalau boleh menyimpulkan, benarkah sikap saya ketika muncul waswas dengan cara mengabaikannya dan tidak memikirkan sah tidakbya amalan tapi terus menyelesaikan sampai selesai. terima kasih

      Hapus
    2. Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih kembali kepada Anda karena menyempatkan diri mampir di blog ini.

      Iya betul. Memang seharusnya seperti itu bagi siapa saja yg sedang diuji dengan waswas agar mengabaikan dan bersegera menyelesaikan amalannya. Dengan catatan, tetap memperhatikan tuma'ninah di dalam shalat.

      Berikut ini saya bawakan sebuah kisah yg menyebutkan salah satu cara mengurangi waswas setan di dalam shalat dengan tetap memperhatikan batasan wajib shalat:

      Dari Abdullah bin 'Anamah, beliau bercerita bahwa beliau sempat melihat 'Ammar bin Yasir masuk ke dalam masjid kemudian shalat dan mempercepat shalatnya.

      Selepas shalat dan ketika hendak beranjak keluar dari masjid, (Abdullah) pun bergegas mendatanginya (Ammar) dan bertanya:

      Wahai Abal Yaqdzan (kuniyah Ammar bin Yasir), ku perhatikan engkau tadi mempercepat shalatmu!

      Beliau menjawab: apakah kamu lihat ada yg ku kurangi sedikitpun dari batasan-batasan shalat?

      Aku jawab: tidak.

      Beliau (Ammar) kembali menjelaskan: sesungguhnya aku mempercepat shalatku sekira setan tidak berlama-lama membuatku lalai, karena aku pernah mendengar sendiri bahwa Rasulullah bersabda:

      "Sesungguhnya seorang hamba itu ketika ia mulai menunaikan shalat, ada yg pahalanya dituliskan hanya sepersepuluhnya saja, (ada pula yg dapat pahala) sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan (ada juga yg dapat) setengahnya (dari pahala shalatnya tersebut)".

      HR. Ahmad (no. 18894) dan Abu Daud (no. 796), dan dinilai hasan oleh Syaikh Albani.

      Catatan:
      'Ammar bin Yasir radhiyallahu anhuma adalah salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

      Hapus
  4. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, terimakasih banyak atas nasihat dan ilmu semoga bermanfaat bagi saya, masih ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan setiap akan atau sedang dalam melakukan amal ibadah selalu muncul berbagai macam lintasan hati yang mengganggu, pertanyaan saya:
    1. Apakah setiap lintasan hati/pikiran tersebut merupakan waswas setan?
    2. Perlukah dijawab atas pertanyaan lintasan hati/pikiran tersebut atau harus diabaikan(Tidak dijawab)? Bila dijawab selalu muncul lintasan pertanyaan baru dan begitu seterusnya tanpa berkesudahan sehingga misal ketika sholat lama memikirkan lintasan hati.
    3. Bila ada pertanyaan lintasan yang belum tahu secara pasti hukumnya apakah perlu diabaikan (misal pertanyaan "pakah hal ini sah/tidak atau batal/tidak dan banyak macam pertanyaan yang membuat kepala pusing)
    4. Benarkah saya bersikap melupakan/mengabaikan semua lintasan tersebut tanpa harus menjawabnya dan tanpa memikirkan apakah sah atau tidaknya ibadah atau batal tidaknya. terimakasih atas nasehat dan perhatiannya. Wassalamualaikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. terima kasih kembali karena menyempatkan diri mampir di blog saya dan semoga bermanfaat.

      pertama, tidak semua yang terlintas di hati atau pikiran kita adalah waswas yang berasal dari setan karena ada pula yang memang berasal dari kita sendiri, dan ada pula yang berasal dari Allah yang dinamakan ilham sebagaimana Allah ilhamkan kepada ibu nabi Musa untuk melemparkan putranya ke air. Namun yang pasti, jika yang terlintas di pikiran kita adalah hal yang mengganggu kenyamanan ibadah kita maka itu bisa berasal dari setan dan bisa berasal dari diri kita sendiri.

      kedua, tidak perlu dijawab atau dihiraukan karena sekali dijawab maka akan mendatangkan pertanyaan lain terlebih ketika shalat. Hal ini sebagaiamana kaidah untuk orang yang sedang berjuang melawan waswas, yaitu tidak menghiraukan waswas itu sendiri.

      ketiga,sekali lagi jangan dipikirkan sah tidaknya ketika kita menjalankan suatu ibadah. Yang terpenting adalah kita mempelajari syarat sah, rukun, wajibat suatu ibadah, shalat misalnya dan kita kerjakan tanpa memikirkan apakah shalat kita sah atau tidak, batal atau tidak ketika shalat itu tengah dikerjakan karena hal itu malah menghilangkan kekhusyu'an kita. Itu adalah waswas, apalagi malah berakibat tidak baik semisal membuat Anda membatalkan shalat Anda.

      keempat, sekali lagi sikap Anda sudah tepat. Semoga Allah membimbing kita semua untuk bisa terlepas dari gangguan pikiran dan waswas di dalam shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Amin.

      sekian dan semoga bermanfaat. mohon maaf atas keterlambatan saya dalam membalas pertanyaan Anda di blog ini. Wassalam.

      Hapus
  5. Assalamu'aliakum
    Saya seorang yg memiliki penyakit was was yg sudah lama,berbagai was was sudah pernah saya alami mulai dari wudhu,mandi wajib,shalat.dalam akidah dan ibadah2 lain nya.
    Mohon nasihat nya atas pertanyaan saya berikut ini :
    1. Hati saya sering berkata di luar
    Kawalan terutama saat wudhu dan saat
    Akan shalat dan dalam shalat.kata2
    Yg terkeluar dr hati seperti
    "Allah bohong,rosul bohong,islam
    Bohong" atau ada kata2 "saya niat
    Kufur,saya niat musyrik"padahal
    Hati saya sangat tidak menginginkan
    Ny dan kata2 itu terkeluar Tanpa
    Bisa saya tahan dia terkeluar
    Sendiri.saya jadi bingung dan
    Ketakutan kalau saya sudah murtad.
    Sehabis kata2 itu muncul sayA
    Membaca syahadat dan ketika saya
    Membaca syahadat dlam hati saya
    Berkata arti syahadat yg justru
    Menghina Allah dan Rosul.sehingga
    Membuat saya sering berulang ulang
    Membaca syahadat karena takut saya
    Menjadi terkeluar dari islam.
    2. Dalam shalat atau wudhu atau mandi
    Wajib sering ada hati berkata "saya
    Niat batalkan shalat atau wudhu atau
    Mandi wajib" dan akibat ada nya
    Kata2 dalam hati seperti itu saya
    Sering membatalkan shalat,wudhu atau
    Mandi wajib saya dan itu sering
    Terjadi berulang2,saya coba lawan
    Tdk memperdulikan nya namun semakin
    Saya tdk memperdulikan nya kata2
    Hati itu semakin kencang dan saya
    Sering kalah dan mengulangi nya lg
    Karena takut batal dan tdk sah
    3. Pada saat saya buang air kecil saya
    Sudah coba usahakan sebisa mungkin
    Untuk di bersihkan,namun suka ada
    Sisa2 keluar pada saat shalat atau
    Wudhu,sahkah shalat atau wudhu saya
    Jika ada sisa air kencing yg keluar?
    Mohon nasihat nya untuk masalah saya ini.
    Wassalamu'alakum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Terima kasih banyak kepada Anda yg berkenan mampir di blog saya dan berbagi pengalaman disini.

      Tanggapan untuk no. 1 dan 2, saya hanya ingin memperkuat apa yg Anda yakini selama ini dan Anda perjuangkan: yakin dan percayalah bahwa itu tidak terjadi sama sekali. Bukankah Anda sendiri tidak menginginkan hal itu!? Hati Anda tidak meyakini itu semua. Itu hanya bisikan yg ingin mengganggu dan merusak akidah dan ibadah Anda.

      Jadi, cobalah untuk berpikir bahwa segala sesuatu yg pasti itu tidak dapat diganti dengan sesuatu yg masih bersifat keraguan.

      Maksud saya, sesuatu yg pasti adalah Anda telah beriman dan percaya kepada Allah dan RasulNya. Sedang sesuatu yg msh bersifat ragu adalah bisikan berupa ketidakpercayaan kpd Allah dan RasulNya.

      Begitu juga dalam ibadah thaharoh (bersuci). Sesuatu yg pasti adalah Anda sdh bersuci yg tidak bisa dibatalkan dengan sesuatu yg tidak pasti seperti perasaan sdh batal atau kemauan membatalkan.

      Tanggapan untuk no. 3, Anda sdh berusaha sebisa dan semaksimal mungkin, jika memang terjadi kondisi yg demikian setelah bersuci maka shalat dan wudhu Anda tetap sah insyaAllah.

      Dan yg perlu diperhatikan, hendaknya setiap kali Anda ingin shalat, setiap kali itu juga Anda ambil air wudhu.

      Demikian dan semoga bermanfaat. Mohon maaf baru bisa menanggapi komentar Anda dikarenakan kesibukan saya selama ini.

      Barokallahu fikum. Semoga Allah mengangkat waswas dari setiap orang yg sedang berjuang melawannya.

      Hapus
    2. Assalamualaikum, bila setiap kali akan melaksanakan sholat atau wudu selalu ada waswas apakah sudah berniat atau belum, untuk menghilangkan waswas tersebut bolehkah mengambil sikap sudah berniat. Sehingga tidak perlu lagi meniatkan kembali yang pada akhirnya waswas semakin menebal, syukron atau jawabannya

      Hapus
    3. waalaikumsalam warahmatullah wabaratuh.
      iya, sangat boleh sekali, bahkan itulah sikap yang lebih tepat dalam menghadapi waswas dalam niat.

      Tetapi jika Anda masih belum bisa untuk melangkah ke arah ini, ada satu cara lagi yang Anda bisa lakukan sebagai langkah pertama dalam mengobati waswas niat ini, yaitu: melafalkan niat sehingga Anda betul-betul yakin dan nyaman dalam shalat Anda selanjutnya.

      Jika waswas niat ini sudah mulai berkurang maka Anda ambil langkah yang Anda sebutkan tadi.

      Bisa baca artikel blog ini yang berkaitan dengan langkah-langkah pengobatan bagi orang yang sedang terkena penyakit waswas dengan judul:

      Suplemen dan Terapi Ampuh Untuk Menghilangkan Waswas.

      Demikian dan semoga bermanfaat.

      Hapus
  6. Assalamualaikum, setelah membaca beberapa artikel masalah niat, bila saya simpulkan niat itu tidak mesti menyusun kata kata dalam hati, sehingga segala aktifitas/perbuatan yang mengarah kepada sesuatu sudah tergolong niat. seperti melangkahkan kaki, masuk ke tempat wudu kemudian membuka kran sudah tergolong niat wudu, meskipun hati tidak mengucap SAYA BERNIAT WUDU, benarkah

    BalasHapus

My Instagram