Ini Kaitan Antara Nama & Sifat Allah Dengan Kehidupan Anda

Bismillah.

Pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa Pencipta dan Pengatur alam semesta beserta isinya hanyalah Allah yang Maha Satu, tiada sekutu satupun bagiNya.

Rabb kita tersebut memiliki Nama-nama yang begitu indah dan Sifat-sifat yang begitu mulia. Keindahan dan kemuliaan yang ada pada nama dan sifat tersebut tiada tara jika dibandingkan dengan nama dan sifat makhluk. Begitu tinggi hingga tidak ada yang dapat menyamai keindahan nama dan kemuliaan sifat Allah dari kalangan makhlukNya.

Allah memiliki nama Al-Jawad yang artinya Maha Pemurah dalam memberi. Nama tersebut sesuai dengan sifat yang terkandung padanya, yaitu sifat mudah memberi yang ada pada Allah, pemilik nama tersebut.

Dan diantara manusia juga ada yang menamai diri mereka dengan Jawad yang artinya suka memberi dan menderma. Namun belum tentu orang yang bernama dengan nama ini memiliki sifat mudah memberi, atau bahkan bisa jadi ia adalah orang yang pelit. Namanya tidak mengindikasikan sifat itu ada pada empunya.

Sedangkan Nama-nama Allah pasti mengindikasikan setiap sifat yang terkandung di balik nama-nama tersebut pada diri Allah. Adapun manusia, belum tentu nama yang dimilikinya sesuai dengan sifat yang ada padanya. Itulah perbedaannya.

"Dan perumpamaan yang paling baik lagi tinggi hanya untuk Allah semata". [QS. An-Nahl: 60]

Sebagian manusia memiliki sifat suka berbuat baik kepada orang lain. Dan Allah memiliki sifat suka berbuat baik (ihsan). Namun perbedaan kadar kebaikan yang diberikan sangatlah jauh berbeda, tidak dapat disandingkan.
foto via citizenimages.kompas.com

Kenapa? Karena kemuliaan dan keluasan sifat ihsan yang ada pada Allah sangatlah besar dan tidak berbatas. Adapun sifat ihsan yang ada pada manusia itu sangatlah terbatas.

Sama-sama memiliki sifat ihsan namun kandungan dan cakupannya sangatlah berbeda jauh. Hal ini karena perbedaan yang mendasar dari keduanya. Allah adalah Rabb yang Maha Sempurna sedangkan manusia adalah makhlukNya yang sangat lemah dan banyak kekurangan. Maka begitu pula halnya nama dan sifat yang ada pada keduanya.

Sebagaimana Allah tegaskan hal ini di dalam firmanNya:

"Tidak ada yang menyerupaiNya (di antara makhluk) sedikitpun. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat". [QS. Asy-Syura: 11]

"Dan manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah".[QS. An-Nisa: 28]

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, yaitu kita sepatutnya menetapkan bahwa Allah memiliki Nama-nama yang begitu indah dan Sifat-sifat yang begitu agung, sesuai dengan apa yang Allah dan RasulNya tetapkan di Al-Qur'an dan Hadits, tanpa merubah maknanya sedikitpun, membagaimanakan bentuk dan caranya, dan menyerupakannya dengan makhlukNya sedikitpun.

Kita mengimani hal ini sebatas kita mengetahui makna dari nama dan sifat tersebut tanpa perlu membayangkan bagaimana bentuk dan caranya. Tidak pula dengan memisalkan ataupun menyerupakannya dengan satu pun makhluk Allah, tidak.

"Istiwa (berada) maklum (secara makna) namun bentuk dan caranya itu tidak diketahui (oleh makhluk). Adapun betanya-tanya tentang hal itu malah bukan tuntunan Nabi dan kebiasaan para sahabat...", jawab Imam Malik dengan muka memerah tatkala ditanya mengenai bagaimana istiwa Allah dan caranya.

Ucapan Imam Malik tersebut kemudian menjadi semacam kaidah baku di kalangan ulama salaf hingga saat ini. Kaidah yang berlaku untuk semua bahasan yang berkaitan dengan sifat Allah yang Maha Mulia.

Hal yang senada juga disampaikan oleh sebagian besar ulama ahli sunnah, baik sebelum masa Imam Malik maupun sesudah beliau, yaitu sebuah kaidah yang diterapkan dalam bab sifat-sifat Allah:

"Biarkan saja (ayat-ayat yang menetapkan sifat Allah) apa adanya sebagaimana (ayat-ayat tersebut) datang (kepada kita".

Ya. Mari kita biarkan ayat-ayat yang menetapkan bahwa Allah memiliki sifat demikian dan demikian sebagaimana diturunkan kepada kita, tanpa diotak-atik maknanya ataupun dibagaimanakan caranya. Karena Allah lah yang paling tahu tentang diriNya ketimbang para makhlukNya.

Jadi, pembicaraan seputar sifat-sifat Allah itu persis seperti pembicaraan seputar dzat Allah, tidak berbeda sama sekali.

Jika kita menetapkan bahwa Allah ada maka kita juga harus menetapkan sifat-sifat Allah seperti Allah memiliki tangan sebagiamana makhluk juga punya tangan namun sangat jelas berbeda tangan Allah, Pencipta yang Maha Sempurna dengan tangan makhluk yang terbatas dan lemah seperti tangan manusia dan makhlukNya yang lain.

Begitu pula Allah memiliki mata, jari jemari, pendengaran, penglihatan, turunNya Allah ke langit dunia, sifat gembira Allah terhadap taubat hambaNya, sifat tertawa Allah, dan seterusnya.

Allah sangat menyukai jika ada diantara hambaNya yang berusaha meniru sifat-sifat Allah yang begitu mulia dan tinggi.

Bahkan Allah akan memperlakukan setiap hambaNya sesuai dengan perlakuan mereka terhadap sesama.

Bukankah kita telah mengetahui melalui ayat-ayat suci Al-Qur'an maupun hadits-hadits shahih Nabi bahwa:

Allah itu Maha Pengasih dan Dia menyukai orang-orang yang mau mengasihi dan menyayangi sesama. Bahkan Allah mencurahkan begitu banyak kasih sayangNya kepada mereka.

Allah itu Maha Menutup aib dan Dia pun suka terhadap orang-orang yang menutup dan menyembunyikan aib hamba-hambaNya.

Allah itu Maha Pemaaf dan Dia pun begitu mencintai orang-orang yang mudah memaafkan di kalangan hambaNya.

Allah itu Maha Lembut dan Dia sangat menyukai orang-orang yang berlemah lembut kepada hamba-hambaNya.

Allah itu Maha Adil dan juga mencintai orang-orang yang berlaku adil terhadap sesama.

Dan begitulah seterusnya. Allah akan memperlakukan setiap hambaNya sesuai dengan bagaimana ia bersikap dan memperlakukan sesama.

Jika Anda mudah memaafkan maka Allah pun akan mudah memaafkan Anda. Jika Anda berlemah-lembut terhadap orang lain maka Allah pun akan memperlakukan Anda dengan penuh kelembutan.

Sebaliknya, jika Anda suka mencari-cari kesalahan saudara seiman Anda maka Allah pun akan dengan mudah menampakkan kesalahan Anda. Jika Anda suka berbuat tipu daya kepada orang lain maka Allah pun akan mengembalikan tipuan itu kepada Anda.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan hal ini dan menegaskannya di dalam hadits beliau:

"Barangsiapa yang mau menutupi (aib dan kekurangan) seorang muslim maka Allah pun akan menutupi (kekurangan dan kesalahan)nya di dunia dan di akhirat.

Barangsiapa yang mau membantu meringankan satu beban dan kesulitan orang mukmin dari berbagai kesulitan dunia maka Allah pun akan melepaskan kesulitan dan bebannya dari beragam kesulitan dan beban hari kiamat kelak.

Barangsiapa yang mempermudah urusan seorang mukmin maka Allah akan mempermudah urusan hisabnya (perhitungan amalannya) kelak". [HR. Muslim]

Pembaca yang dimuliakan Allah, bahasan ini adalah bahasan yang penting. Hendaknya kita betul-betul berusaha meresapi dan memaknainya untuk kemudian kita amalkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ingatlah bahwa kita memiliki Rabb yang memiliki banyak Nama yang begitu agung dan Sifat-sifat yang begitu tinggi lagi mulia. Sangat agung, sangat tinggi, dan sangat indah yang mana kita sebagai makhlukNya tidak mungkin bisa membayangkan betapa indah dan tingginya nama dan sifat yang dimiliki oleh Rabb kita tersebut.

Kita mengimaniNya dan mengimani Nama-nama dan Sifat-sifatNya tersebut dan menyembahNya sesuai perintahNya dan tuntunan Rasul UtusanNya. Itu saja sebagai bekal kita ketika menghadapNya kelak di Hari Kiamat. Adapun segala hal yang berkaitan dengan kehidupan kita, takdir kita, baik itu rezeki, kebahagiaan, kesedihan, kelebihan, kekurangan, dan sebagainya, maka itu kita kembalikan kepada Rabb kita yang memiliki Nama dan Sifat yang sangat agung tadi.

Dialah Pemberi Rezeki maka janganlah kita khawatir dengan rezeki kita. Dialah Pengatur semesta seluruhnya termasuk segala urusan kita maka janganlah mempermasalahkan segala ketetapanNya atas kehidupan kita karena Dia yang mengatur dan Dia pula Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang mana kasih sayangNya kepada kita melebihi kasih sayang ibu kita sendiri kepada kita.

Dia pula yang Maha Mengetahui segala sesuatu maka janganlah sekali-kali kita berpikir bahwa apa yang kita tidak miliki atau  terlepas dari kita, itu akan merugikan kita, justru Allah lah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita karena Dia Maha Mengetahui dan Begitu Menyayangi para hambaNya.

Tugas kita hanyalah menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan apapun dan siapapun. Jangan pernah memutus hubungan, harapan, dan takut kita kepadaNya karena Dia lah pemilik segalanya, di bumi dan di langit, di dunia dan di akhirat. Tetaplah di jalur penghambaan diri kepadaNya berlandaskan petunjuk Rasul tercintaNya karena itulah satu-satunya jalan keselamatan di dunia dan akhirat.  

Demikian. Mudah-mudahan bermanfaat. Wallahu A'lam. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad.

Rujukan:
• Kitab Al-Asma was Shifat karya Baihaqi
• Kitab Akidah Wasithiyyah karya Ibnu Taimiyah
• Kitab Ash-Shawaiqul Mursalah karya Ibnul Qayyim
• Kitab Al-Qawaidul Mutsla karya Ibnu Utsaimin
• Kitab Taqribut Tadmuriyah karya Ibnu Utsaimin
• Kitab Ash-Shifatul Ilahiyah karya Muhammad Al-Jami

My Instagram